M |
ulanya aku merasa terpenjara. Ruang gerakku terbatasi. Tak bisa sembarang bermain ke mana kusuka. Ke segala arah mata angin langkahku selalu kandas, terhalang pagar - pagar yang tidak dapat kulewati. Berkutat di dalam lingkungan pondok tak enak, menjemukan. Aku muak tinggal di pondok pesantren dengan seabrek peraturan yang membuatku kehilangan kebebasan. Tidur dan terjaga harus sesuai jadwal. Teman-teman dari berbagai daerah tak ada yang dapat kuakrabi. Mereka sombong, pikirku. Aku merasa terasing. Belajar pun tak nyaman. Ustadz dan ustadzahnya pun tak familiar. Belum lagi makannya yang tak begitu cocok dilidahku. Makan pun harus sesuai jadwal, harus antre kayak narapidana atau kayak orang miskin mengantre pembagian jatah sembako. Menyebalkan.Tiga bulan pertama aku merasa tersiksa.
Tak ada keluarga yang boleh datang menjenguk. Aku ingin pulang, pulang dan tak pernah kembali lagi. Aku ingin makan enak di rumah, nonton sinetron, jalan-jalan ke mal, makan bakso kondang kesukaanku, mendengarkan musik, nonton konser , bahkan nonton sepak bola. Aku juga ingin selalu berkumpul dengan Siska, Vera, Qzing, dan Bzonk, teman-teman gank Mertrous waktu SMP. Kalau bukan karena ibu yang menangis-nangis dan ayah memaksa dari awal aku tak mau masuk pondok pesantren.
“Restu, ibu menginginkan agar kelak kamu menjadi muslimah yang baik, kaffah dalam menjalankan syariat Islam. Kamu satu-satunya harapan ibu. Terhadap kedua kakakmu ibu gagal mengarahkan ke jalur agama. Ibu tidak mau hal itu terulang kepadamu. Demi ibu yang melahirkanmu dengan cucuran darah, ibu mohon kamu melanjutkan pendidikan ke pesantren saja. Ibu tahu yang terbaik buat kamu. Kamu akan menjadi lebih baik jika masuk pesantren. Waktumu akan lebih banyak digunakan untuk belajar. Ibu sangat mengerti karakter kamu. Keadaan lingkungan keluarga kita belum sanggup menjadikan kalian berakhlaqul karimah, belum sanggup membuat kamu rajin ibadah. Di sana ada ustadz Zulkifli dan ustadz Sandi kenalan ayahmu yang dapat kau mintai tolong bila perlu. Ibu akan sering-sering menjengukmu. Tak ada yang mesti dikhawatirkan. Kalau ada sedikit kesusahan, itu hal biasa dan pasti bisa diatasi. Ibu mohon kamu melanjutkan ke pesantren saja.” Mata ibu berkaca-kaca. Dalam dua malam terakhir kudapati ibu shalat dengan wirid dan doa berlama-lama. Kukira ibu ingin hajatnya terlabul.
Atas keinginan ibu aku tak bergeming. Malam kian jauh. Bulan tak muncul. Ayah menutup percakapan malam itu dengan nada kesal. “Kalau kamu tidak mau melanjutkan ke pesantren, lebih baik tidak usah sekolah. Biar nanti hidupmu susah sekalian!” Aku tak berani menentang kekerasan watak ayah. Kalau ayah meluapkan amarahnya, tak segan aku ditamparnya. Ketika aku kedapatan pulang tengah malam sehabis nonton di bioskop bersama teman-teman kepergok ayah, ayah marah besar. Sampai dua hari kepalaku masih pening karena tamparan ayah. Aku tak mengira ayah bakal pulang ketika itu, karena sejak sore ayah berangkat kerja, mendapat giliran kerja malam.
Tak jemu-jemu ibu membujuk agar aku melanjutkan studi ke pesantren. Aku pengang dan bosan mendengarnya. “Iya, iya. Aku mau masuk pesantren. Demi ibu!” balasku sembarang, sekadar memuaskan hati ibu dan agar ibu tidak bicara terus. Terpaksa kuturuti keinginan ibu walau hanya sebatas kata-kata.
Aneh, selanjutnya seperti tak ada kekuatanku untuk menolak ajakan ibu. Aku mengikuti saja ketika diajak mendaftar jadi santri baru di pondok pesantren dekat perbatasan kabupaten Serang. Seleksi calon santri kuikuti dengan sewajarnya. Hasilnya, aku lulus seleksi. Aku senang berarti aku mampu, meskipun masuk dalam kelompok reguler, yang berarti prestasiku biasa-biasa saja. Bagiku suatu hal yang menggembirakan karena aku bukan lulusan madrasah sedangkan soal yang diujikan sebagian besar mengenai agama. Selanjutnya, jadilah aku santri sebuah pondok pesantren modern bervisi: Merawat Tradisi Merespon Modernisasi. Berarti aku masuk kelas empat, sama dengan kelas sepuluh di SMA. Mengetahui aku diterima di pesantren teman-teman mengirim pesan singkat bernada seloroh: semoga lekas insyaf; anda berada di jalan yang benar; selamat memasuki dunia lain; demi gank Metrous nanti kita ngumpul lagi; dan lain-lain.
Demi memenuhi keinginan ibu kujalani tugas ini. Tugas untuk belajar di pesntren. Bekal makanan yang dibawakan ibu cukup untuk dua minggu. Kekurangannya, makan dan minum kuperoleh dari dapur umum. Masa-masa awal menjadi tempaan yang benar-benar tak mengenakkan bagiku yang terbiasa hidup enak di keluarga. Biasa bebas, biasa dilayani, kini aku dituntut harus lebih bisa mengurus diri sendiri.
Untuk kepentingan merayakan ulang tahun di rumah, dengan alasan orang tua sakit keras, aku diijinkan pulang. Kuminta ibu berbohong kepada petugas bagian pengasuhan. Sungguh aku merasakaan kebahagiaan tersendiri berkumpul dengan rekan-rekan SMP termasuk gank-ku, Mertous. Sesuai janji dengan ibu, aku hanya dua hari di rumah, kemudian berangkat lagi. Ibu juga berjanji tak akan berbohong macam itu lagi. Cukup sekali. Untuk selanjutnya ibu tidak mau mengulanginya.
Itu sebabnya di tahun kedua aku tak berniat merayakan ulang tahun di rumah. Aku ingin ulang tahunku dirayakan di pondok saja, walaupun dengan cara yang sederhana. Meskipun begitu tentu saja kue ulang tahun dan makanan pendamping lainnya mesti ada. Aku tak mau dicibir teman-teman karena tak ada kue ulang tahunnya. Aku rencanakan acara ulang tahunku akan dilaksanakan saat berbuka puasa, di kamar, dengan mengundang teman-teman putri sekelas.
“Pokoknya ibu harus bawa kue ulang tahun!” pintaku memaksa saat ibu menjenguk, “Jangan lupa juga kue-kue lainnya, buat teman-teman.”
“Ya ya, yang penting kamu sungguh-sungguh belajar. Insyaallah ibu bawakan.”
“Benar yah!” Aku senang ibu menyanggupi permintaanku. Kupikir aku tak perlu pulang dan tak perlu repot-repot mengarang cerita fiktif agar diijinkan meninggalkan pondok.
Saat mendekati waktunya, aku mengirim pesan singkat melalui handphone orang tua temanku yang menjenguk agar ibu tidak lupa dengan janjinya, yakni membawakan kue ulang tahun dan makanan lainnya. Aku ingin janji ibu tak meleset. Aku ingin ulang tahun kali ini menjadi ulang tahun terindah, yakni ulang tahun yang dihadiri oleh seluruh teman putri dan dilaksanakan saat berbuka puasa. Dengan begitu aku berharap mendapat berkah berlimpah. Teman-teman sudah kuberitahu. Mereka merespon dengan baik dan menyatakan insyaallah akan hadir.
Hari kesebelas puasa, tepat hari ulang tahunku, kunanti kedatangan ibu sejak pagi kalau-kalau ibu tiba. Hingga matahari tergelincir ibu tak datang juga. Aku gelisah. Namun tentu masih ada harapan setengah hari. Barangkali beberapa saat lagi. “Ibu di manakah kau, aku sangat mengharapkanmu. Tolong ibu, jangan permalukan aku, anakmu yang malang ini,” harapku dalam hati. Kukira mungkin saja ibu tiba menjelang buka puasa. Ternyata hingga adzan magrib mengumandang ibu tak juga muncul, sedangkan teman-teman sudah berkumpul di kamarku. Satu persatu mereka bubar. Aku tertunduk malu. Pupuslah harapanku. “Ya Tuhan. Mesti ditaruh dimana mukaku,” keluhku dalam hati. Aku menangis, tak dapat menahan malu dan sedih. Namun beruntung beberapa teman memaklumi keadaanku dan kemudian berusaha memberi pengertian terhadap teman-teman lainnya.
Langit tanpa bulan malam itu cerah, tak ada tanda-tanda bakal hujan. Angin semilir. Lampu-lampu telah dinyalakan. Suara-suara santri sedikit riuh. Sebagian besar santri telah berkumpul di musholah Ar-Rahmah. Aku baru saja keluar dari kamarku di Masyitoh dua. Sebeum adzan isya mengumandang kudengar jelas panggilan dari pengeras suara: “ Panggilan: kepada Restu Hawa kelas lima ditunggu di majelis pengasuhan putri sekarang juga.” Bergegas kupenuhi panggilan itu. Di sana ada paman Fahmi. Tak biasa dia bersedia menjemputku. Dalam hati aku bertanya-tanya. Jangan-jangan ada yang tak beres. “Ada apa paman?” tanyaku curiga.
“Restu, kamu pulang sekarang yah, penting!”
Ustadzah Riani yang kukira telah mendapat penjelasan dari paman Fahmi berusaha menenangkanku. Dia membimbingku agar menuruti ajakan paman Fahmi. Meskipun tidak mengerti maksudnya aku manut saja sebagai sikap hormatku kepadanya. Tanpa banyak bicara kuturuti ajakan paman Fahmi walau dalam hati aku bertanya-tanya. Aku tak berani membayangkan hal yang tidak-tidak tentang ibu. Sepanjang perjalanan aku berdoa semoga ibu baik-baik saja.
Persis ketika mobil yang kutumpangi tiba di depan rumah, sebuah ambulan keluar gang meninggalkan rumahku. Jantungku berdetak-detak, terasa aliran darahku tersedak-sedak. Orang-orang berkurumun di depan dan di dalam rumah. Berpasang mata menatap ke arahku. Aku terheran-heran. Tak ada yang mau mengatakan siapakah gerangan yang terkena musibah. Kulihat ayah segar bugar meski dengan wajah pucat. Kakak dan kedua adikku menangis sesenggukan. Di ruang tengah ada yang terbujur, terbungkus kain putih. Kusingkap kain yang menutupi wajahnya untuk memastikan. Masyaallah, ibu! Innalillahi wa innailaihi rojiun. Spontan tangisku meledak. Aku nyaris tak sadarkan diri. Sesak dadaku.
Ini salahku. Kusesali diriku. Karena akulah ibu jadi korban. Tanpa kuminta bibi yang berada di sampingku mengatakan bahwa ibu mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju pondok sekitar bakda dzuhur. Sungguh,ini salahku. Meski tanpa kata-kata, dari tatapannya aku merasa ayah dan kakak menyalahkanku. Mereka tampak sinis. Aku makin tersudut. Ingin mati saja rasanya, mati bersama ibu. “Ibu. Aku ikut ibu,” bicaraku dalamtangis. Beruntung masih ada bibiku yang mau mamahami keadaanku. Dia tak henti-henti menenangkan dan menasihati agar aku bersabar dan tawakal. Penguburan dilakukan malam itu juga, usai shalat tarawih. Bibiku itu pula yang selalu dekat denganku hingga menemaniku mengantar jenazah di tempat pemakaman umum.
Lebaranku kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Amat terasa, tanpa kehadiran ibu. Terasa ada yang hilang. Hambar. Tak ada hidangan yang nikmat untuk disantap. Tak ada suka cita di malam takbir. Tak ada shalat ied bersama. Tak ada pula pakaian baru. Ayah, kakak dan kedua adikku masih merasa terpukul. Mereka masih membenciku. Mereka masih berat menerima permintaan maafku. Aku maklumi hal itu. Aku terima kekecewaan mereka terhadapku. Aku sadari itu karena salahku. Aku menyesal. Namun dengan begitu derita batinku berangsur meringan. Kukira aku sedang menerima ganjaran atas kesalahanku. Pada hari kedua, barulah ayah dapat memaafkan aku. “Maafkan ayah, Restu. Ayah keliru. Berhari-hari ayah membencimu. Ayah salah, Nak. Seharusnya ayah menerima ini sebagai musibah keluarga, musibah kita bersama. Maafkan ayah, Nak.” Ayah tak dapat menahan tangisnya. Air mataku pun tumpah. Kakak dan kedua adikku pun bertangisan. Sesaat di rumah kami berlangsung paduan suara bernada sedih campur haru.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar