Minggu, 20 November 2011

fairish

Lagi-Lagi dipinjemin Novel... Cekidot novel yang baru sudah dipinjamkan lebih dari 1 bulan baru baca lagi & post ini juga udah mandek di draft sebulanan ini mending masih ada beberapa post lagi yang mandek di draft lebih lama dari ini :0

Judul : Fairis
Penulis : Esti Kinasi
Penerbit : PT GRAMEDIA PUSTAKA UMUM
Tahun Terbit : 2004ISBN : 979-22-0940-9

"lo pura-pura jadi pacar gue ya, Rish? Biar gue nggak dikerubutin cewek-cewek centil itu." pinta Davi."Tapi... konsekuensinya, Dav" ujar Irish pelan."Elo punya cowok?" Kali ini ganti Davi yang tersentak kaget. "Atau... Lagi ada yang elo suka?"Iris buru-buru geleng kepala. "Bukan gitu. Kalo mereka nyangka kita beneran...""Biarin aja. Bagus malah!" Davi mengenggam kedua tangan Irish.Akhirnya Irish menerima permintaan Davi meskipun dengan setengah hati. Tapi setelah dijalani, Irish senang kok menjadi satu-satunya cewek yang paling dekat dengan Davi, walaupun cuma untuk sementara dan tanpa ada ikatan apa-apa.Iris emang nggak secantik Penelope Cruz. Dia cuma cewek biasa, yang di sekolah pun sama sekali ngak ngetop. Karena itu Davi merasa aman, soalnya dia merasa nggak bakalan naksir Irish. Tapi saat muncul cowok lain yang bikin Irish terpikat, kok Davi jadi nggak rela kehilangan Irish, ya ?

Cerita Singkat

SMA Palagan, ada seorang murid baru bernama Davidio Daniel Dharmawan yang dipanggil Davi. Awal kemunculannya membuat cewe cewe diSMA Palagan terpesona, ia memilih duduk disebelah Fairish (dipanggil Irish) yang kecil, lucu. Cewek cewek yang mencoba menarik perhatian Davi selalu nongkrongin tempat duduk Irish yang membuat pemilik tempat duduk harus mengungsi tiap sebelum mulai pelajaran. Davi tipe pria yang jarang bicara, dingin pada wanita bahkan Wulan pernah menjadi korban amarahnya karna lelah digangu. Tapi Irish juga heran karna Davi berbeda jika didepan Udin dkk (cowok2). Hingga Irish yang sempat takut dgn halus mengusir Davi sebagai alasanya pemilik tempat duduknya ada sedang sakit & diRawat Di RS. Irish merupakan satu satunya cewek yang cuek pada Davi. Davi yang tiba2 datang kerumah irirsh mengajak irish pergi dengan alasan menjenguk orang yang memiliki bangkunya. Tapi ditengah jalan Davi mengakui telah menjenguknya & malah bercerita mengenai kekasihnya yang terdahulu meninggal saat Davi yang suka ngebut membawanya kekebun teh tempat favorit pacarnya. Setelah bercerita Davi menuangkan emosinya dengan memarahi Irish yang sedang menenangkannya. Irish yang kesalpun marah pada Davi, yang membuat Davi tertawa dan kembali ke tujuan utamanya mengajak irish keluar yaitu ingin Fairish berpura-pura jadi pacarnya dimulai saat pesta ultah teman sekelasnya yang kaya buangettttt (Metha). Tapi jika Fairish punya Cowo yang ditaksir mereka akan selesai (pura-pura pacarannya).

EsoknyaDisekolah Davi tetap cuek pada Irish namun pulangnya ia baru mendesak Irish. Tiba saat yang ditunggu Davi & Fairish datang kepesta ulang tahun Metha. Dipesta ulang tahun itu tatapan para cewe memandang Irish dengan sinis,yang membuat mereka segera pulang. Disekolah berita jadiannya Irish & Davi langsung merebak, dan membuat Davi jadi Protektif terhadap Irish. Davi dan irish kemana mana selalu berdua, Hingga mendadakhari dan waktu Ekskul mereka bersama, Irish yang habis Rapat langsung diculik Metha,Wulan dkk kerumah Daniar yang dekat sekolah. Tepat saat mereka memaksa Irish cerita tentang 'mengapa mereka bisa Jadian ?' Davi datang menolong. Kejadian tsb membuat Davi lebih protek pada Irish. Wulan dkk membuat pansus untuk membuat Irish Cerita tapi usaha mereka sia sia. Hingga saat tanding basket pansus tsb memboykot seluruh siswa agar tak datang bahkan cherrs pun diBoykot. Hingga Udin dkk membantu, yaitu dengan menjadi Cherrs laki-laki dadakan yang membuat pertandingan Ramai & Meruntuhkan rencana Pansus.Hingga pansus mengalihkan Rencana dengan mencekal Vaya, sahabat Iris untuk berjualan Kripiknya diKoperasi. Awalnya Davi cuek tapi setelah tau teman irish jadi tersangkut akhirnya ia mengproklamirkan bahwa ialah yang menyukai Irish karna Irish Cuek padanya, pernyataan itu membuat angota pansus kecewa & patah hati. Kedekatan Irish dengan Davi membuat Fairish menyukai Davi, tapi sayang Davi hanya sweat saat didepan banyak orang & dingin saat mereka berdua. Hingga Irish memantapkan hatinya untuk menghalangi rasa itu tumbuh tapi harus MATI !! Hingga Irish tak lagi memiliki perasaan untuk Davi. Padahal dilain hati Davi juga mulai menyukai Irish namun ia kurang yakin terhadap perasaan Irish padanya sehingga Davi menutupi perasaannya.

Di SMA PALAGAN lagi lagi ada seorang murid baru, Alfa yang memiliki sifat Riang. Pertama bertemu Irish, Alfa langsung menyukainya dan mengejar Irish walau tau Irish sudah berpacaran dengan Davi. Hingga aksi nekadnya merebut hati Fairish membuat murid murid SMA PALAGAN geleng geleng kepala. hingga ia menemukan celah yaitu ketika tanpa sengaja melihat Fairish yang sedang seorang diri melihat lihat Lukisan. Alfa langsung menyapa Fairish yang dijawab Fairish dengan baik padahal biasanya Jutek, Hingga Alfa memperlihatkan pengetahuannya dalam Lukisan, hal ini lah yang membuat Alfa dapat mendekatkan dengan nya dengan Irish. Hingga gosip Di Sma Palagan pun beredar saat mereka melihat lukisan "Nyaris" (read hampir bugil) dari Metha. Davi yang meminta penjelasanpun terbakar api cemburu, Hingga Irish minta pertanggung jawaban Alfa. Tapi Alfa malah ngasih saran P.U.T.U.S yang membuat Irish ingat jadiannya dengan Davi hanya Tameng untuk Davi. tapi sat ia sedang ngedumel Davi datang dan minta maaf, Esoknya Irish pun menjelaskan tiap jadwalnya pergi kepameran dengan Alfa pokoknya hari Irish selalu dengan Alfa, Diam diam sebenarnya Davi menahan RASA CEMBURUNYA. Hingga saat Alfa akan membonceng Irish, Emosi yang dipendan Davi pun Tersulut. Davi lalu membawapaksa Irish kemobilnya yang membuat Alfa marah dan mengejar Mobil DAVI. Alfa pun mengancam jika Irish kenapa napa irish akan jadi miliknya bahkan Alfa menyiratkan bahwa hubungan Irish dengan Davi hanya pura pura. Irish Pun benar-bener marah saat Davi memarahinya karna ia mengatakan hubungannya yang sebenarnya pada Alfa. Esoknya dengan Usaha yang keras Davi dimaafkan, dan karna bertenkar sebelum berangkat mereka jadinya bolos ke tempat galeri sepupuhnya Davi.

Esoknya Alfa sudah ada Dibangku Davi dan mengancam Akan datang saat jm pulang sekolah untuk nonjok Davi. pulang sekolahpun tiba dan benar saja aLFA DATANG DAN MENUTUP PINTU KElas. awalnya Irish takut dan memeluk Davi tapi ia disuruh duduk jauh dari mereka. benar saja Alfa langsung memukul Davi, saat hampir baku hantam Alfa membisikan bahwa ia adalah Sepupuh dari mantan pacar Davi yang meninggal. Davi mengantar Irish pulang,Irish yang curiga ada sesuatu dibalik ini selain dirinya bertanya tapi davi malah menyuruhnya masuk. Davi langsung pergi ditempat yang dijanjijkannya dengan Alfa disana baku hantam benar benar dahsyat dan Alfa mengungkapkan kekecewaannya pada Davi yang PLAYBOY malah sedang asyik pacaran dijakarta dengan Irish. Davi pun jadi teringat bagaimana usahnya bunuh diri hingga ibunya menanggis dihadapannya yang membuat Davi ingin Berubah. Davi hanya pasrah pada Alfa karna memang ia pernah memasrahkan dirinya untuk dibunuh keluarga almarhum pacarnya tsb. Diakhir perpisahaannyadengan Alfa, Davi memberitahu hubungannya Dengan irish hanya SANDIWARA. Davi jadi ngedown tapi ia ingat kenangannya denga Iris dan Doa yang Iris beri padanya membuat Davi Kuat.


Esoknya ALfa Lebam lebam dan memberitahu Irish bahwa ia sudah tau hubungannya dengan davi hanya pura puar sedangkan Davi 2 hari tidak masuk. saat masuk ia malah cuek pada Irish dan membiarkan Alfa mendekati Irish walau didepan davi hal ini membuat Irish sakit Hati karna pengorbanananya SIA SIA. dan Irish berusaha tidak peduli pada Davi & Alfa. hingga saat Davi tidak masuk 3 hari Irish jadi khawatir apalagi ia tau Davi keTemanggu tempat mantan pacar davi meninggal. Irish yang sudah tau siapa Alfa bertanya pada Alfa sedanga APA DAVI malah dijawa mencari Angin. Disaat Davi tak ada Irish menyadari bahwa perasaanya pada Davi belum Hilang.


hingga Saat Davi masuk ia berterimakasih karna Irish peduli. Suatu malam Alfa dengan tampilan rapi datang kerumah Irish dan menembah Irish dengan serius. Dari Jauh Davi melihat dan membaca situasi yang terjadi, Hingga Alfa pulang, Irish merenung sampai Masuk Davi hanya melihat dari jauh. Sampai Davi memutuskan sesuatu.

Esoknya Davi membawa Irish dengan motoe untuk melawan phobianya dengan motor ia mebonceng Irish dengan ngebut kekebun teh Tiba dikebun Teh Davi menyatakan isi hatinya yang disambut oleh Irish. Dan davi memberi secari kertas dengan tulisan.

Doa yang irish kasih buat Davi

Tuhanku....
Bicaralah padaku bial aku kesepian....
Bisikanlah dukungan-Mu bila aku dirundung kecemasan
Dengarkanlah Suaraku bila aku jatuh
Sudilah menjadi bagiku penghiburan dalam perjalanan
Tempat bernaung di waktu panas
Tempat berteduh Di kala Hujan
Tongkat Penuntun dalam kelelahaan
Dan penolong dalam Bahaya
Semoga Aku berhasil
Mencapai tujuanku
Sekarang, dan juga nanti
Pada akhir hidupku.


isi kertas yang diberi Davi pada Irish

Aku telah bernyayi untukmu
Tapi Kau tidak juga menari
Aku telah menangis didepanmu
Tapi kau tidak juga mengerti
Haruskah aku menangis sambil bernyanyi
(Lagu Gelombang by Kahlil Gibran




cerpen Lebaran Tanpa Ibu Yang Membayangi


M
ulanya aku merasa terpenjara. Ruang gerakku terbatasi. Tak bisa sembarang bermain ke mana kusuka.  Ke segala arah mata angin langkahku selalu kandas, terhalang  pagar - pagar yang tidak dapat kulewati. Berkutat di dalam lingkungan pondok tak enak, menjemukan. Aku muak tinggal di pondok pesantren dengan seabrek peraturan yang membuatku kehilangan kebebasan. Tidur dan terjaga harus sesuai jadwal. Teman-teman dari berbagai daerah tak ada yang dapat kuakrabi. Mereka sombong, pikirku. Aku merasa terasing.  Belajar pun tak nyaman. Ustadz dan ustadzahnya pun tak familiar. Belum lagi makannya yang tak begitu cocok dilidahku. Makan pun harus sesuai jadwal, harus antre kayak narapidana atau kayak orang miskin mengantre pembagian jatah sembako. Menyebalkan.Tiga bulan pertama aku merasa tersiksa.
Tak ada keluarga yang boleh datang menjenguk. Aku ingin pulang, pulang dan tak pernah kembali lagi. Aku ingin makan enak di rumah, nonton sinetron, jalan-jalan ke mal, makan bakso kondang kesukaanku, mendengarkan musik,  nonton konser , bahkan nonton sepak bola.   Aku  juga ingin selalu berkumpul dengan Siska, Vera, Qzing, dan Bzonk, teman-teman gank Mertrous waktu SMP. Kalau bukan karena ibu yang menangis-nangis dan ayah memaksa dari awal aku tak mau masuk pondok pesantren.
“Restu, ibu menginginkan agar kelak kamu menjadi muslimah yang baik, kaffah dalam menjalankan syariat Islam. Kamu satu-satunya harapan ibu. Terhadap kedua kakakmu ibu gagal mengarahkan ke jalur agama. Ibu tidak mau hal itu terulang kepadamu. Demi ibu yang melahirkanmu dengan cucuran darah,  ibu mohon kamu melanjutkan pendidikan ke pesantren saja. Ibu tahu yang terbaik buat kamu. Kamu akan menjadi lebih baik jika masuk pesantren.  Waktumu akan lebih  banyak digunakan untuk belajar. Ibu sangat mengerti karakter kamu. Keadaan lingkungan keluarga kita belum sanggup menjadikan kalian berakhlaqul karimah, belum sanggup membuat kamu rajin ibadah. Di sana ada ustadz Zulkifli dan ustadz Sandi kenalan ayahmu yang dapat kau mintai tolong bila perlu. Ibu akan sering-sering menjengukmu. Tak ada yang mesti dikhawatirkan. Kalau ada sedikit kesusahan, itu hal biasa dan pasti bisa diatasi. Ibu mohon kamu melanjutkan ke pesantren saja.” Mata ibu berkaca-kaca. Dalam dua malam terakhir kudapati ibu shalat dengan wirid dan doa berlama-lama. Kukira ibu ingin hajatnya terlabul.
Atas keinginan ibu aku tak bergeming. Malam kian jauh. Bulan tak muncul.  Ayah menutup percakapan malam itu dengan nada kesal. “Kalau kamu tidak mau melanjutkan ke pesantren, lebih baik tidak usah sekolah. Biar nanti hidupmu susah sekalian!” Aku tak berani menentang kekerasan watak ayah. Kalau ayah meluapkan amarahnya, tak segan aku ditamparnya. Ketika aku kedapatan pulang tengah malam sehabis nonton di bioskop bersama teman-teman kepergok ayah, ayah marah besar. Sampai dua hari kepalaku masih pening karena tamparan ayah. Aku tak mengira ayah bakal pulang ketika itu, karena sejak sore ayah berangkat kerja, mendapat giliran kerja malam.
Tak jemu-jemu ibu membujuk agar aku melanjutkan  studi ke pesantren. Aku pengang dan bosan mendengarnya. “Iya, iya. Aku mau masuk pesantren. Demi ibu!” balasku sembarang, sekadar memuaskan hati ibu dan agar ibu tidak bicara terus. Terpaksa kuturuti keinginan ibu walau hanya sebatas kata-kata.
Aneh, selanjutnya seperti tak ada kekuatanku untuk menolak ajakan ibu. Aku mengikuti saja ketika diajak mendaftar jadi santri baru di pondok pesantren dekat perbatasan kabupaten Serang. Seleksi calon santri kuikuti dengan sewajarnya. Hasilnya, aku lulus seleksi. Aku senang berarti aku mampu, meskipun masuk dalam kelompok reguler, yang berarti prestasiku biasa-biasa saja. Bagiku suatu hal yang menggembirakan karena aku bukan lulusan madrasah sedangkan soal yang diujikan sebagian besar mengenai agama.  Selanjutnya, jadilah aku santri sebuah pondok pesantren modern bervisi: Merawat Tradisi Merespon Modernisasi. Berarti aku masuk kelas empat, sama dengan kelas sepuluh di SMA. Mengetahui aku diterima di pesantren teman-teman mengirim pesan singkat bernada seloroh: semoga lekas insyaf; anda berada di jalan yang benar; selamat memasuki dunia lain; demi gank Metrous nanti kita ngumpul lagi; dan lain-lain. 
Demi memenuhi keinginan ibu kujalani tugas ini. Tugas untuk belajar di pesntren. Bekal makanan yang dibawakan ibu  cukup untuk dua minggu. Kekurangannya,  makan dan minum kuperoleh dari  dapur umum. Masa-masa awal menjadi tempaan yang benar-benar tak mengenakkan bagiku yang terbiasa hidup enak di keluarga. Biasa bebas, biasa dilayani, kini aku dituntut harus lebih bisa mengurus diri sendiri.  
Untuk kepentingan merayakan ulang tahun di rumah, dengan alasan orang tua sakit keras, aku diijinkan pulang. Kuminta ibu berbohong  kepada petugas bagian pengasuhan. Sungguh aku merasakaan kebahagiaan tersendiri berkumpul dengan rekan-rekan SMP termasuk gank-ku, Mertous. Sesuai janji dengan ibu, aku hanya dua hari di rumah, kemudian berangkat lagi. Ibu juga berjanji tak akan berbohong macam itu lagi. Cukup sekali. Untuk selanjutnya ibu tidak mau mengulanginya.
Itu sebabnya di tahun kedua aku tak berniat merayakan ulang tahun di rumah. Aku ingin ulang tahunku dirayakan di pondok saja, walaupun dengan cara yang sederhana. Meskipun begitu tentu saja kue ulang tahun dan makanan pendamping lainnya mesti ada. Aku tak mau dicibir teman-teman karena tak ada kue ulang tahunnya.  Aku rencanakan acara ulang tahunku akan dilaksanakan saat berbuka puasa, di kamar, dengan mengundang teman-teman putri sekelas.
“Pokoknya ibu harus bawa kue ulang tahun!” pintaku memaksa saat ibu menjenguk, “Jangan lupa juga kue-kue lainnya, buat teman-teman.”
“Ya ya, yang penting kamu sungguh-sungguh belajar. Insyaallah ibu bawakan.”
“Benar yah!” Aku senang ibu  menyanggupi permintaanku. Kupikir  aku tak perlu pulang dan tak perlu  repot-repot mengarang cerita fiktif agar diijinkan meninggalkan pondok.
Saat mendekati waktunya, aku mengirim pesan singkat melalui handphone orang tua temanku yang menjenguk agar ibu tidak lupa dengan janjinya, yakni membawakan kue ulang tahun dan makanan lainnya. Aku ingin  janji ibu tak meleset. Aku ingin ulang tahun kali ini menjadi ulang tahun terindah, yakni ulang tahun yang dihadiri oleh seluruh teman putri dan dilaksanakan saat berbuka puasa. Dengan  begitu aku berharap mendapat berkah berlimpah. Teman-teman sudah kuberitahu. Mereka merespon dengan baik dan menyatakan insyaallah akan hadir.
Hari kesebelas puasa, tepat hari ulang tahunku, kunanti kedatangan ibu sejak pagi kalau-kalau ibu tiba. Hingga matahari tergelincir ibu tak datang juga. Aku gelisah.  Namun tentu masih ada harapan setengah hari. Barangkali beberapa saat lagi. “Ibu di manakah kau, aku sangat mengharapkanmu. Tolong ibu, jangan permalukan aku, anakmu yang malang ini,” harapku dalam hati. Kukira mungkin saja ibu tiba menjelang buka puasa. Ternyata hingga adzan magrib mengumandang ibu tak juga muncul, sedangkan teman-teman sudah berkumpul di kamarku. Satu persatu mereka bubar. Aku tertunduk malu. Pupuslah harapanku. “Ya Tuhan. Mesti ditaruh dimana mukaku,” keluhku dalam hati. Aku menangis, tak dapat menahan malu dan sedih. Namun beruntung beberapa teman memaklumi keadaanku dan kemudian berusaha memberi pengertian terhadap teman-teman lainnya. 
Langit tanpa bulan malam itu cerah, tak ada tanda-tanda bakal hujan. Angin semilir. Lampu-lampu telah dinyalakan. Suara-suara santri sedikit riuh. Sebagian besar santri telah berkumpul di musholah Ar-Rahmah. Aku baru saja keluar dari  kamarku di Masyitoh dua.   Sebeum adzan isya mengumandang kudengar jelas panggilan dari pengeras suara: “ Panggilan: kepada Restu Hawa kelas lima ditunggu di majelis pengasuhan putri sekarang juga.”   Bergegas kupenuhi panggilan itu.  Di sana ada paman Fahmi. Tak biasa dia bersedia menjemputku. Dalam hati aku bertanya-tanya. Jangan-jangan ada yang tak beres. “Ada apa paman?” tanyaku curiga.
“Restu, kamu pulang sekarang yah, penting!”
Ustadzah Riani yang kukira telah mendapat penjelasan dari paman Fahmi  berusaha menenangkanku.  Dia membimbingku agar menuruti ajakan paman Fahmi. Meskipun  tidak mengerti maksudnya aku manut saja sebagai sikap hormatku kepadanya. Tanpa banyak bicara kuturuti ajakan paman Fahmi walau dalam hati aku bertanya-tanya. Aku  tak berani membayangkan hal yang tidak-tidak tentang ibu. Sepanjang perjalanan aku berdoa semoga ibu baik-baik saja.   
Persis ketika mobil yang kutumpangi tiba di depan rumah, sebuah ambulan keluar  gang meninggalkan rumahku. Jantungku berdetak-detak, terasa aliran darahku tersedak-sedak. Orang-orang berkurumun di depan dan di dalam rumah. Berpasang mata menatap ke arahku. Aku  terheran-heran. Tak ada yang mau mengatakan siapakah gerangan yang terkena musibah. Kulihat ayah segar bugar meski dengan wajah pucat. Kakak dan kedua adikku menangis sesenggukan. Di ruang tengah ada yang terbujur, terbungkus kain putih. Kusingkap kain yang menutupi wajahnya untuk memastikan. Masyaallah, ibu! Innalillahi wa innailaihi rojiun. Spontan tangisku meledak. Aku nyaris tak sadarkan diri. Sesak dadaku.
Ini salahku. Kusesali diriku. Karena akulah ibu jadi korban. Tanpa kuminta bibi yang berada di sampingku mengatakan bahwa ibu mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju pondok sekitar bakda dzuhur. Sungguh,ini salahku. Meski tanpa kata-kata, dari tatapannya aku merasa ayah dan kakak menyalahkanku. Mereka tampak sinis. Aku makin tersudut. Ingin mati saja rasanya, mati bersama ibu. “Ibu. Aku ikut ibu,” bicaraku dalamtangis.  Beruntung masih ada bibiku yang mau mamahami keadaanku. Dia tak henti-henti menenangkan dan menasihati agar aku bersabar dan tawakal. Penguburan dilakukan malam itu juga, usai shalat tarawih.  Bibiku itu pula yang selalu dekat denganku hingga menemaniku mengantar jenazah di tempat pemakaman umum.
Lebaranku kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Amat terasa, tanpa kehadiran ibu. Terasa ada yang hilang. Hambar. Tak ada hidangan yang nikmat untuk disantap. Tak ada suka cita di malam takbir. Tak ada shalat ied bersama. Tak ada pula pakaian baru. Ayah, kakak dan kedua adikku masih merasa terpukul. Mereka masih membenciku. Mereka masih berat menerima permintaan maafku. Aku maklumi hal itu. Aku terima kekecewaan mereka terhadapku. Aku sadari itu karena salahku. Aku menyesal. Namun dengan begitu  derita batinku berangsur   meringan. Kukira aku sedang menerima ganjaran atas kesalahanku. Pada hari kedua, barulah ayah dapat memaafkan aku. “Maafkan ayah, Restu. Ayah keliru. Berhari-hari ayah membencimu. Ayah salah, Nak. Seharusnya ayah menerima ini sebagai musibah keluarga, musibah kita bersama. Maafkan ayah, Nak.” Ayah tak dapat menahan tangisnya. Air mataku pun tumpah. Kakak dan kedua adikku pun bertangisan. Sesaat di rumah kami berlangsung paduan suara bernada sedih campur haru.**

kesultanan mataram

Kesultanan Mataram

Peta Mataram Baru yang telah dipecah menjadi empat kerajaan pada tahun 1830, setelah Perang Diponegoro. Pada peta ini terlihat bahwa Kasunanan Surakarta memiliki banyak enklave di wilayah Kasultanan Yogyakarta dan wilayah Belanda. Mangkunagaran juga memiliki sebuah enklave di Yogyakarta. Di kemudian hari enklave-enklave ini dihapus.
Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapat hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya dapat menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura serta meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman di Jakarta dan sistem persawahan di Karawang.
Masa awal
Sutawijaya naik tahta setelah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang. Pusat pemerintahan berada di Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta dan selatan Bandar Udara Adisucipto sekarang. Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede. Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yang setelah naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati.
Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang berburu di hutan Krapyak. Karena itu ia juga disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak. Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang.
SULTAN AGUNG MATARAM
Sudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang). Ia memindahkan lokasi kraton ke Kerta (Jw. "kertå", maka muncul sebutan pula "Mataram Kerta"). Akibat terjadi gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I).

Terpecahnya Mataram
Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Pleret (1647), tidak jauh dari Kerta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan "sunan" (dari "Susuhunan" atau "Yang Dipertuan"). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680), sekitar 5km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap telah tercemar.
Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi "king in exile" hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon.
Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah "ahli waris" dari Kesultanan Mataram.
Peristiwa Penting
  • 1558 - Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang.
  • 1577 - Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede.
  • 1584 - Ki Ageng Pemanahan meninggal. Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru di Mataram, bergelar "Ngabehi Loring Pasar" (karena rumahnya di utara pasar).
  • 1587 - Pasukan Kesultanan Pajang yang akan menyerbu Mataram porak-poranda diterjang badai letusan Gunung Merapi. Sutawijaya dan pasukannya selamat.
  • 1588 - Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan, bergelar "Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama" artinya Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama.
  • 1601 - Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati dan kemudian dikenal sebagai "Panembahan Seda ing Krapyak" karena wafat saat berburu (jawa: krapyak).
  • 1613 - Mas Jolang wafat, kemudian digantikan oleh putranya Pangeran Aryo Martoputro. Karena sering sakit, kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang. Gelar pertama yang digunakan adalah Panembahan Hanyakrakusuma atau "Prabu Pandita Hanyakrakusuma". Setelah Menaklukkan Madura beliau menggunakan gelar "Susuhunan Hanyakrakusuma". Terakhir setelah 1640-an beliau menggunakan gelar bergelar "Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman"
  • 1645 - Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Susuhunan Amangkurat I.
  • 1645 - 1677 - Pertentangan dan perpecahan dalam keluarga kerajaan Mataram, yang dimanfaatkan oleh VOC.
  • 1677 - Trunajaya merangsek menuju Ibukota Pleret. Susuhunan Amangkurat I mangkat. Putra Mahkota dilantik menjadi Susuhunan Amangkurat II di pengasingan. Pangeran Puger yang diserahi tanggung jawab atas ibukota Pleret mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga.
  • 1680 - Susuhunan Amangkurat II memindahkan ibukota ke Kartasura.
  • 1681 - Pangeran Puger diturunkan dari tahta Pleret.
  • 1703 - Susuhunan Amangkurat III wafat. Putra mahkota diangkat menjadi Susuhunan Amangkurat III.
  • 1704 - Dengan bantuan VOC Pangeran Puger ditahtakan sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Awal Perang Tahta I (1704-1708). Susuhunan Amangkurat III membentuk pemerintahan pengasingan.
  • 1708 - Susuhunan Amangkurat III ditangkap dan dibuang ke Srilanka sampai wafatnya pada 1734.
  • 1719 - Susuhunan Paku Buwono I meninggal dan digantikan putra mahkota dengan gelar Susuhunan Amangkurat IV atau Prabu Mangkurat Jawa. Awal Perang Tahta II (1719-1723).
  • 1726 - Susuhunan Amangkurat IV meninggal dan digantikan Putra Mahkota yang bergelar Susuhunan Paku Buwono II.
  • 1742 - Ibukota Kartasura dikuasai pemberontak. Susuhunan Paku Buwana II berada dalam pengasingan.
  • 1743 - Dengan bantuan VOC Ibukota Kartasura berhasil direbut dari tangan pemberontak dengan keadaan luluh lantak. Sebuah perjanjian sangat berat (menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC selama belum dapat melunasi hutang biaya perang) bagi Mataram dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai imbalan atas bantuan VOC.
  • 1745 - Susuhunan Paku Buwana II membangun ibukota baru di desa Sala di tepian Bengawan Beton.
  • 1746 - Susuhunan Paku Buwana II secara resmi menempati ibukota baru yang dinamai Surakarta. Konflik Istana menyebabkan saudara Susuhunan, P. Mangkubumi, meninggalkan istana. Meletus Perang Tahta III yang berlangsung lebih dari 10 tahun (1746-1757) dan mencabik Kerajaan Mataram menjadi dua Kerajaan besar dan satu kerajaan kecil.
  • 1749 - 11 Desember Susuhunan Paku Buwono II menandatangani penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC. Namun secara de facto Mataram baru dapat ditundukkan sepenuhnya pada
1830. 12 Desember Di Yogyakarta, P. Mangkubumi diproklamirkan sebagai Susuhunan Paku Buwono oleh para pengikutnya. 15 Desember van Hohendorff mengumumkan Putra Mahkota sebagai Susuhunan Paku Buwono III.
  • 1752 - Mangkubumi berhasil menggerakkan pemberontakan di provinsi-provinsi Pasisiran (daerah pantura Jawa) mulai dari Banten sampai Madura. Perpecahan Mangkubumi-RM Said.
  • 1754 - Nicolas Hartingh menyerukan gencatan senjata dan perdamaian. 23 September, Nota Kesepahaman Mangkubumi-Hartingh. 4 November, PB III meratifikasi nota kesepahaman. Batavia walau keberatan tidak punya pilihan lain selain meratifikasi nota yang sama.
  • 1755 - 13 Februari Puncak perpecahan terjadi, ditandai dengan Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah" atau lebih populer dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
  • 1757 - Perpecahan kembali melanda Mataram. R.M. Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Kesunanan Surakarta dengan gelar "Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Nagara Senopati Ing Ayudha".
  • 1788 - Susuhunan Paku Buwono III mangkat.
  • 1792 - Sultan Hamengku Buwono I wafat.
  • 1795 - KGPAA Mangku Nagara I meninggal.
  • 1799 - Voc dibubarkan
  • 1813 - Perpecahan kembali melanda Mataram. P. Nata Kusuma diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Kadipaten Paku Alaman yang terlepas dari Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam".
  • 1830 - Akhir perang Diponegoro. Seluruh daerah Manca nagara Yogyakarta dan Surakarta dirampas Belanda. 27 September, Perjanjian Klaten menentukan tapal yang tetap antara Surakarta dan Yogyakarta dan membagi secara permanen Kerajaan Mataram ditandatangani oleh Sasradiningrat, Pepatih Dalem Surakarta, dan Danurejo, Pepatih Dalem Yogyakarta. Mataram secara de facto dan de yure dikuasai oleh Hindia Belanda