Rabu, 14 Desember 2011

sejarah kerusuhan mei 1998

 


Kerusuhan Mei 1998
Di Artikel ini saya akan men-share sebuah kisah luar biasa. Sebuah konflik besar yang mulanya bertujuan untuk menurunkan rezim Soeharto tapi kemudian merembet hingga permasalahan kesenjangan sosial dan pelanggaran HAM. Tapi sebelumnya saya akan mengingatkan “ARTIKEL INI BUKAN BERTUJUAN UNTUK MEMOJOKKAN SUATU PIHAK ATAU GOLONGAN, BUKAN SEBAGAI TINDAKAN YANG RASIS TAPI BERTUJUAN UNTUK MEMBUKA KEMBALI LEMBARAN KELAM SEJARAH INDONESIA”.Para pelaku kerusuhan 13-15 Mei 1998 terdiri dari dua golongan yakni, pertama, masa pasif (massa pendatang) yang karena diprovokasi berubah menjadi massa aktif, dan kedua, provokator. Provokator umumnya bukan dari wilayah setempat, secara fisik tampak terlatih, sebagian memakai seragam sekolah seadanya (tidak lengkap), tidak ikut menjarah, dan segera meninggalkan lokasi setelah gedung atau barang terbakar. Para provokator ini juga yang membawa dan menyiapkan sejumlah barang untuk keperluan merusak dan membakar, seperti jenis logam pendongkel, bahan bakar cair, kendaraan, bom molotov, dan sebagainya.
Titik picu paling awal kerusuhan di Jakarta terletak di wilayah Jakarta Barat, tepatnya wilayah seputar Universitas Trisakti pada tanggal 13 Mei 1998. Sementara pada tanggal 14 Mei 1998, kerusuhan meluas dengan awalan titik waktu hampir bersamaan, yakni rentang antara pukul 08.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB. Dengan demikian untuk kasus Jakarta, jika semata-mata dilihat dari urutan waktu, ada semacam aksi serentak. TGPF mendapatkan, bahwa faktor pemicu (triggering factor) terutama untuk kasus Jakarta ialah tertembak matinya mahasiswa Trisakti pada sore hari tanggal 12 Mei 1998.
Para pelaku kerusuhan dapat dibagi atas tiga kelompok sebagai berikut:
1. Kelompok Provakator
Kelompok inilah yang menggerakkan massa, dengan memancing keributan, memberikan tanda-tanda tertentu pada sasaran, melakukan pengrusakan awal, pembakaran, mendorong penjarahan. Kelompok ini datang dari luar tidak berasal dari penduduk setempat, dalam kelompok kecil (lebih kurang belasan orang), terlatih (yang mempunyai kemampuan terbiasa menggunakan alat kekerasan), bergerak dengan mobilitas tinggi, menggunakan sarana transport (sepeda motor, mobil/Jeep) dan sarana komunikasi (HT/HP). Kelompok ini juga menyiapkan alat-alat perusak seperti batu, bom molotov, cairan pembakar, linggis dan lain-lain. Pada umumnya kelompok ini sulit dikenal, walaupun di beberapa kasus dilakukan oleh kelompok dari organisasi pemuda (contoh di Medan ditemukan keterlibatan langsung Pemuda Pancasila). Diketemukan fakta keterlibatan anggota aparat keamanan, seperti di Jakarta, Medan, dan Solo (data TGPF Kerusuhan Mei).
2. Massa Aktif
Massa dalam jumlah puluhan hingga ratusan, yang mulanya adalah massa pasif pendatang, yang sudah terprovokasi sehingga menjadi agresif, melakukan perusakan lebih luas termasuk pembakaran. Massa ini juga melakukan penjarahan pada toko-toko dan rumah. Mereka bergerak secara terorganisir.
3. Massa Pasif
Pada awalnya massa pasif lokal berkumpul untuk menonton dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Sebagian dari mereka terlibat ikut-ikutan merusak dan menjarah setelah dimulainya kerusuhan, tetapi tidak sedikit pula yang hanya menonton sampai akhir kerusuhan. Sebagian dari mereka menjadi korban kebakaran.
Korban dan Kerugian
Tentang korban, selama ini dirasakan adanya kecenderungan dari pemerintah, masyarakat termasuk mass media memusatkan perhatian pada korban akibat kekerasan seksual semata-mata. Fakta menunjukkan bahwa yang disebut korban dalam kerusuhan Mei 1998 adalah orang-orang yang telah menderita secara fisik dan psikis karena hal-hal berikut, yaitu: kerugian fisik/material (rumah atau tempat usaha dirusak atau dibakar dan hartanya dijarah), meninggal dunia saat terjadinya kerusuhan karena berbagai sebab (terbakar, tertembak, teraniaya, dan lain-lain), kehilangan pekerjaan, penganiayaan, penculikan dan rnenjadi sasaran tindak kekerasan seksual.
Dengan demikian, korban dalam kerusuhan Mei lalu dibagi dalam beberapa kategori sebagai berikut:
1. Kerugian Material:
Adalah kerugian bangunan, seperti toko, swalayan, atau rumah yang dirusak, termasuk harta benda berupa mobil, sepeda motor, barang-barang dagangan dan barang-barang lainnya yang dijarah dan/atau dibakar massa. Temuan tim menunjukkan bahwa korban material ini bersifat lintas kelas sosial, tidak hanya menirnpa etnis Cina, tetapi juga warga lainnya. Namun yang paling banyak menderita kerugian material adalah dari etnis Cina.
2. Korban kehilangan pekerjaan:
Adalah orang-orang yang akibat terjadinya kerusuhan, karena gedung atau tempat kerjanya dirusak, dijarah dan dibakar, membuat mereka kehilangan pekerjaan atau sumber kehidupan. Yang paling banyak kehilangan pekerjaan adalah anggota masyarakat biasa.
3. Korban meninggal dunia dan luka-luka:
Adalah orang-orang yang meninggal dunia dan luka-luka saat terjadinya kerusuhan. Mereka adalah korban yang terjebak dalam gedung yang terbakar, korban penganiayaan, korban tembak dan kekerasan lainnya.
4. Korban Penculikan:
Adalah mereka yang hilang/diculik pada saat kerusuhan yang dilaporkan ke YLBHI/Kontras dan hingga kini belum diketemukan, mereka adalah:
- Yadin Muhidin (23 tahun) hilang di daerah Senen.
- Abdun Nasir (33 tahun) hilang di daerah Lippo Karawaci;
-Hendra Hambali (19 tahun), hilang di daerah Glodok Plaza;
-Ucok Siahaan (22 tahun), hilang tidak diketahui di mana;
Jumlah Korban dan Kerugian
Sulit ditemukan angka pasti jumlah korban dan kerugian dalam kerusuhan. Untuk Jakarta, TGPF menemukan variasi jumlah korban meninggal dunia dan luka-luka sebagai berikut:
(1) data Tim Relewan 1190 orang akibat ter/dibakar, 27 orang akibat senjata/dan lainnya, 91 luka-luka;
(2) data Polda 451 orang meninggal, korban luka-luka tidak tercatat;
(3) data Kodam 463 orang meninggal termasuk aparat keamanan, 69 orang luka-luka;
(4) data Pemda DKI meninggal dunia 288 , dan luka-luka 101 .
Untuk kota-kota lain di luar Jakarta variasi angkanya adalah sebagai berikut:
(1) data Polri 30 orang meninggal dunia, luka-luka 131 orang, dan 27 orang luka bakar;
(2) data Tim Relawan 33 meninggal dunia, dan 74 luka-luka.
Opini yang selama ini terbentuk adalah bahwa mereka yang meninggal akibat kesalahannya sendiri, padahal ditemukan banyak orang meninggal bukan karena kesalahannya sendiri. Perbedaan jumlah korban jiwa antara yang ditemukan tim dengan angka resmi yang dikeluarkan pemerintah terjadi karena pada kenyataannya begitu banyak korban yang telah dievakuasi sendiri oleh masyarakat, sebelum ada evakuasi resmi dari pemerintah. Korban-korban ini tidak tercatat dalam laporan resmi pemerintah.
Kekerasan Seksual
Dengan mengacu Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, kekerasan seksual didefinisikan sebagai setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. Sementara bila dipakai rujukan dari hukum positif Indonesia maka semua peristiwa kekerasan seksual tak dapat dijelaskan secara memadai dan adil. Bentuk-bentuk kekerasan seksual yang ditemukan dalam kerusuhan Mei 1998 lalu, dapat dibagi dalam beberapa kategori, yaitu: perkosaan, perkosaan dengan penganiayaan, penyerangan seksual/penganiayaan dan pelecehan seksual.
Jumlah Korban

Dari hasil verifikasi dan uji silang terhadap data yang ada, menjadi nyata bahwa tidak mudah memperoleh data yang akurat untuk menghitung jumlah korban kekerasan seksual, termasuk perkosaan. TGPF menemukan adanya tindak kekerasan seksual di Jakarta dan sekitarnya, Medan dan Surabaya.
Dari jumlah korban kekerasan seksual yang dilaporkan yang rinciannya adalah:
1. Yang didengar langsung: 3 orang korban
2. Yang diperiksa dokter secara medis: 9 orang korban;
3. Yang diperoleh keterangan dari orang tua korban: 3 orang korban;
4. Yang diperoleh melalui saksi (perawat, psikiater, psikolog): 10 orang korban;
5. Yang diperoleh melalui kesaksian rokhaniawan/pendamping (konselor): 27 orang korban;
Korban perkosaaan dengan penganiayaan: 14 orang korban:
1. Yang diperoleh dari keterangan dokter: 3 orang korban;
2. Yang diperoleh dari keterangan saksi mata (keluarga): 10 orang korban;
3. Yang diperoleh dari keterangan konselor: 1 orang korban;
Korban penyerangan/penganiayaan seksual: 10 orang korban:
1. Yang diperoleh dari keterangan korban: 3 orang korban;
2. Yang diperoleh dari keterangan rohaniawan: 3 orang korban;
3. Yang diperoleh dari keterangan saksi (keluarga): 3 orang korban;
4. Yang diperoleh dari keterangan dokter: 1 orang korban;
Korban pelecehan seksual: 9 orang korban:
1. Yang diperoleh dari keterangan korban; 1 orang korban;
2. Yang diperoleh dari keterangan saksi: 8 orang korban (dari Jakarta dan Surabaya)
Kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 terjadi di dalam rumah, di jalan dan di tempat usaha. Mayoritas kekerasan seksual terjadi di dalam rumah/bangunan. TGPF juga menemukan bahwa sebagian besar kasus perkosaan adalah gang rape, di mana korban diperkosa oleh sejumlah orang secara bergantian pada waktu yang sama dan di tempat yang sama. Kebanyakan kasus perkosaan juga dilakukan di hadapan orang lain. Meskipun korban kekerasan seksual tidak semuanya berasal dari etnis Cina, namun sebagian besar kasus kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei l998 lalu diderita oleh perempuan dari etnis Cina. Korban kekerasan seksual ini pun bersifat lintas kelas sosial.
Peristiwa kerusuhan tanggal 13-l5 Mei 1998 tidak dapat dilepaskan dari konteks dinamika sosial politik masyarakat Indonesia pada masa itu, yang ditandai dengan rentetan peristiwa Pemilu 1997, krisis ekonomi, Sidang Umum MPR RI Tahun 1998, demonstrasi simultan mahasiswa, penculikan para aktivis dan tertembaknya mahasiswa Trisakti. Pada peristiwa inilah rangkaian kekerasan yang berpola dan beruntun yang terjadi secara akumulatif dan menyeluruh, dapat dilihat sebagai titik api bertemunya dua proses pokok yakni proses pergumulan elit politik yang intensif yang terpusat pada pertarungan politik tentang kelangsungan rezim Orde Baru dan kepemimpian Presiden Suharto yang telah kehilangan kepercayaan rakyat dan proses cepat pemburukan ekonomi.
Di bidang politik terjadi gejala yang mengindikasikan adanya pertarungan faksi-faksi intra elit yang melibatkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam pemerintahan maupun masyarakat yang terpusat pada isu penggantian kepemimpinan nasional. Hal ini tampak dari adanya faktor dinamika politik seperti yang tampak dalam pertemuan di Makostrad tanggal 14 Mei 1998 antara beberapa pejabat ABRI dengan beberapa tokoh masyarakat, yang menggambarkan bagian integral dari pergumulan elit politik. Di samping itu dinamika pergumulan juga tampak pada tanggung jawab Letjen TNI Prabowo Subianto dalam kasus penculikan aktivis.
Analisa ini semakin dikuatkan dengan fakta terjadinya pergantian kepemimpinan nasional satu minggu setelah kerusuhan terjadi, yang sebelumnya telah didahului dengan adanya langkah-langkah ke arah diberlakukannya TAP MPR No. V /MPR/1998.
terjadi krisis moneter yang telab mengakibatkan membesarnya kesenjangan sosial ekonomi, menguatnya persepsi tentang ketikdakadilan yang semakin akut dan menciptakan dislokasi sosial yang luas yang amat rentan terhadap konflik vertikal (antarkelas) dan horizontal (antargolongan).
Di bidang ekonomi
, akibat krisis bidang politik dan ekonomi, nampak jelas gejala kekerasan massa yang eksesif yang cenderung dipilih sebagai solusi penyelesaian masalah, misalnya dalam bentuk penjarahan di antara sesama penduduk di daerah. Begitu pula adanya sentimen ras yang laten dalam masyarakat telah merebak menjadi rasialisme terutama di kota-kota besar. Di samping itu identitas keagamaan telah terpaksa digunakan oleh sebagian penduduk sebagai sarana untuk melindungi diri sehingga menciptakan perasaan diperlakukan secara diskriminstif pada golongan agama lain. Mudah dipahami bahwa latar belakang kekerasan-kekerasan itu telah menjadikan peristiwa penembakan mahawiswa Universitas Trisakti sebagai pemicu kerusuhan berskala nasional.
Di bidang sosial
Pada aras mikro (massa) dapat dianalisis bahwa dari satuan unit wilayah (enam lokasi kota yang dipilih TGPF), terdapat beberapa kesamaan, kemiripan, maupun variasi pola kerusuhan.
Pertama, di Jakarta pola umum kerusuhan terjadi dalam empat tahap, yaitu:
(a) tahap persiapan/pra perusakan meliputi aktivitas memancing reaksi dengan cara membakar material tertentu (ban, kayu, tong sampah, barang bekas) dan atau dengan cara membuat perkelahian antar kelompok/pelajar juga dengan meneriakan yel-yel tertentu untuk memanasi massa/menimbulkan rasa kebencian seperti: “mahasiswa pengecut”, “polisi anjing;”
(b) tahap perusakan meliputi aktivitas seperti: melempar batu, botol, mendobrak pintu, memecahkan kaca, membongkar sarana umum dengan alat-alat yang dipersiapkan sebelumnya;
(c) tahap penjarahan meliputi seluruh aktivitas untuk mengambil barang atau benda-banda lain dalam gedung yang telah dirusak;
(d) tahap pembakaran yang merupakan puncak kerusuhan yang memberikan dampak korban dan kerugian yang paling besar.
Kedua, di Solo, TGPF menemukan fakta yang selain memberi petunjuk jelas mengenai keterlibatan para preman termasuk organisasi pemuda setempat, juga dari kelompok yang berbaju loreng dan baret merah sebagaimana yang digunakan kesatuan Kopassus, dalam mengkondisikan terjadinya kerusuhan. Kasus-kasus Solo, mengindikasikan keterkaitan antara kekerasan massa di tingkat bawah dengan pertarungan elite di tingkat atas.
Ketiga, Surabaya dan Lampung dan dikelompakkan menjadi satu kategori, karena beberapa ciri yang serupa. Di kedua kota ini, kerusuhan relatif berlangsung cepat dan segara dapat diatasi, skalanya relatif kecil dengan korban dan kerugian yang tidak begitu parah. Sekalipun pada kasus kedua kota ini juga didapati “penumpang gelap” (free rider) dan provokator lokal tetapi keduanya menunjukkan lebih menonjol sifat lokal, sporadis, terbatas, dan spontan.
Keempat, kasus Palembang lebih tidak bersifat spontan dibanding Surabaya dan Lampung. Para “penumpang gelap” atau provokator lokal lebih berperan dan mengarah pada kerusuhan terencana dan terorganisir dalam skala yang lebih besar.
Kelima, sedangkan kasus Medan, unsur-unsur penggerak lokal dengan ciri preman kota lebih menonjol lagi. patut diingat, bahwa kerusuhan di Medan sudah terjadi sepekan sebelum kerusuhan tanggal 13-15 Mei 1998 di lima kota lainnya, namun Medan merupakan titik awal rangkaian munculnya secara nasional.
Dari uraian di atas, TGPF menemukan bahwa kerusuhan di Jakarta, Solo, Medan mempunyai kesamaan pola. Sedangkan kerusuhan di Palembang secara umum memiliki kesamaan dengan kerusuhan di Jakarta, Solo, Medan namun memiliki ciri spesifik di mana provokator dan “penumpang gelap” sukar dibedakan. Adapun kerusuhan yang terjadi di Lampung dan Surabaya, pada hakekatnya menunjukkan sifat-sifat yang lokal, sporadis, terbatas dan spontan.
Korban Kekerasan Seksual
1. Besarnya jumlah korban jiwa selama kerusuhan disebabkan oleh telah terkumpulnya secara berpola terlebih dahulu jumlah massa yang besar disekitar gedung-gedung pusat pertokoan yang kemudian pada awalnya didorong memasuki gedung-gedung tersebut meninggal di dalam gedung yang terbakar. Bahwa jumlah korban jiwa yang besar juga diakibatkan oleh sangat lemahnya upaya penyelamatan, baik oleh masyarakat maupun instansi/aparatur. Faktor kebakaran dan skala kerusuhan yang telah terjadi merupakan penyebab utama dari kerugian materiil yang sangat besar.
2. Dari segi intensitas kekerasan terhadap sebagian korban yang menjadi sasaran serangan, dimensi sentimen anti rasial terhadap golongan etnik Cina yang latent merupakan faktor penyebab dominan yang mudah diekspolitir untuk menciptakan kerusuhan. Faktor lain yang telah menyebabkan penyerangan terhadap kelompok etnis Cina karena penyerangan awal yang ditujukan terhadap toko-toko dan rumah- rumah milik golongan etnis tersebut yang terkonsentrasi di beberapa wilayah tertentu.
3. Kekerasan seksual telah terjadi selama kerusuhan dan merupkan satu bentuk serangan terhadap martabat manusia yang telah menimbulkan penderitaan yang dalam serta rasa takut dan trauma yang luas. Kekerasan seksual terjadi karena adanya niat tertentu, paluang, serta pembentukan psikologi massa yang seolah-olah membolehkan tindakan tersebut dilakukan sehingga melipatgandakan terjadinya perbuatan tersebut.
4. Sosial Ekonomi. Tekanan dan kesenjangan sosial ekonomi yang diperparah oleh kelangkaan bahan pokok yang dialami masyarakat, rawan terhadap pengeksploatasian sehingga melahirkan dorongan-dorongan destruktif untuk melakukan tindak-tindak kekerasan (perusakan, pembakaran, penjarahan dan lain-lain). Sebagian besar mereka yang terlibat ikut- ikutan dalam kerusuhan pada dasarnya adalah korban dari keadaan serta struktur yang tidak adil. Mereka berasal dari lapisan rakyat kebanyakan.
5. Adanya kesimpangsiuran di masyarakat tentang ada tidaknya serta jumlah korban perkosaan timbul dari pendekatan yang didasarkan kepada hukum positif yang mensyaratkan adanya laporan korban, ada/tidaknya tanda-tanda persetubuhan dan atau tanda-tanda kekerasan serta saksi dan petunjuk. Di pihak lain, keadaan traumatis, rasa takut yang mendalam serta aib yang dialami oleh korban dan keluarganya, membuat mereka tidak dapat mengungkapkan segala hal yang mereka alami.
Dari korban kekerasan seksual, khususnya korban perkosaan yang berjumlah 14 orang, setelah diverifikasi terdapat dua kelompok korban ditinjau dari sudut pendekatan positif dan empirik yaitu:
1. Fakta yang berasal dari korban langsung dan IDI yang berdasarkan sumpah jabatan dan Protokol Jakarta sebanyak 3 orang.
2. Fakta yang berasal dari keluarga korban, saksi, psikater/psikolog maupun rohaniwan/pendamping sebanyak 11 orang.
Dari temuan lapangan, banyak pihak yang berperan di semua tingkat, baik sebagai massa aktif maupun provokator unytuk mendapatkan keuntungn pribadi maupun kelompok atau golongan, atas terjadinya kerusuhan. Kesimpulan ini merupakan penegasan bahwa terdapat keterlibatan banyak pihak, mulai dari preman lokal, organisasi politik dan massa, hingga adanya keterlibatan sejumlah anggota dan unsur di dalam ABRI yang di luar kendali dalam kerisuhan ini. Mereka mendapatkan keuntungan bukan saja dari upaya secara sengaja untuk menumpangi kerusuhan, melainkan juga dengan cara tidak melakukan tindakan apa-apa. Dalam konteks inilah, ABRI tidak cukup bertindak untuk mencegah terjadinya kerusuhan, padahal memiliki tanggung jawab untuk itu. Di lain pihak, kemampuan masyarakat belum mendukung untuk turut mencegah terjadinya kerusuhan.

mei 1998 wikipedia

Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei - 15 Mei 1998, khususnya di ibu kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.
Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa — terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa[1]. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut[2][3]. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis.
Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi". Sebagian masyarakat mengasosiasikan peristiwa ini dengan peristiwa Kristallnacht di Jerman pada tanggal 9 November 1938 yang menjadi titik awal penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi dan berpuncak pada pembunuhan massal yang sistematis atas mereka di hampir seluruh benua Eropa oleh pemerintahan Jerman Nazi.
Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama yang dianggap kunci dari peristiwa kerusuhan Mei 1998. Pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa bukti-bukti konkret tidak dapat ditemukan atas kasus-kasus pemerkosaan tersebut, namun pernyataan ini dibantah oleh banyak pihak.
Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun demikian umumnya masyarakat Indonesia secara keseluruhan setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian (genosida) terhadap orang Tionghoa, walaupun masih menjadi kontroversi apakah kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang disusun secara sistematis oleh pemerintah atau perkembangan provokasi di kalangan tertentu hingga menyebar ke masyarakat.Pengusutan dan penyelidikan
Tidak lama setelah kejadian berakhir dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini. TGPF ini mengeluarkan sebuah laporan yang dikenal dengan "Laporan TGPF" [4]
Mengenai pelaku provokasi, pembakaran, penganiayaan, dan pelecehan seksual, TGPF menemukan bahwa terdapat sejumlah oknum yang berdasar penampilannya diduga berlatarbelakang militer[5]. Sebagian pihak berspekulasi bahwa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pembiaran atau bahkan aktif terlibat dalam provokasi kerusuhan ini[6][7][8].
Pada 2004 Komnas HAM mempertanyakan kasus ini kepada Kejaksaan Agung namun sampai 1 Maret 2004 belum menerima tanggapan dari Kejaksaan Agung.[9]

[sunting] Penuntutan Amandemen KUHP

Pada bulan Mei 2010, Andy Yentriyani, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat di Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), meminta supaya dilakukan amandemen terhadap Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Menurut Andy, Kitab UU Hukum Pidana hanya mengatur tindakan perkosaan berupa penetrasi alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan. Namun pada kasus Mei 1998, bentuk kekerasan seksual yang terjadi sangat beragam. Sebanyak 85 korban saat itu (data Tim Pencari Fakta Tragedi Mei 1998), disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam, anal, dan oral. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut belum diatur dalam pasal perkosaan Kitab UU Hukum Pidana.[10]

tragedi trisakti

Tragedi Trisakti

Kejatuhan perekonomian Indonesia sejak tahun 1997 membuat pemilihan pemerintahan Indonesia saat itu sangat menentukan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa ini supaya dapat keluar dari krisis ekonomi. Pada bulan Maret 1998 MPR saat itu walaupun ditentang oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat tetap menetapkan Soeharto sebagai Presiden. Tentu saja ini membuat mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Cuma ada jalan demonstrasi supaya suara mereka didengarkan.
Demonstrasi digulirkan sejak sebelum Sidang Umum (SU) MPR 1998 diadakan oleh mahasiswa Yogyakarta dan menjelang serta saat diselenggarakan SU MPR 1998 demonstrasi mahasiswa semakin menjadi-jadi di banyak kota di Indonesia termasuk Jakarta, sampai akhirnya berlanjut terus hingga bulan Mei 1998. Insiden besar pertama kali adalah pada tanggal 2 Mei 1998 di depan kampus IKIP Rawamangun Jakarta karena mahasiswa dihadang Brimob dan di Bogor karena mahasiswa non-IPB ditolak masuk ke dalam kampus IPB sehingga bentrok dengan aparat. Saat itu demonstrasi gabungan mahasiswa dari berbagai perguruan tingi di Jakarta merencanakan untuk secara serentak melakukan demonstrasi turun ke jalan di beberapa lokasi sekitar Jabotabek.Namun yang berhasil mencapai ke jalan hanya di Rawamangun dan di Bogor sehingga terjadilah bentrokan yang mengakibatkan puluhan mahasiswa luka dan masuk rumah sakit.
Setelah keadaan semakin panas dan hampir setiap hari ada demonstrasi tampaknya sikap Brimob dan militer semakin keras terhadap mahasiswa apalagi sejak mereka berani turun ke jalan. Pada tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa Trisakti melakukan demonstrasi menolak pemilihan kembali Soeharto sebagai Presinden Indonesia saat itu yang telah terpilih berulang kali sejak awal orde baru. Mereka juga menuntut pemulihan keadaan ekonomi Indonesia yang dilanda krisis sejak tahun 1997.
Mahasiswa bergerak dari Kampus Trisakti di Grogol menuju ke Gedung DPR/MPR di Slipi. Dihadang oleh aparat kepolisian mengharuskan mereka kembali ke kampus dan sore harinya terjadilah penembakan terhadap mahasiswa Trisakti. Penembakan itu berlansung sepanjang sore hari dan mengakibatkan 4 mahasiswa Trisakti meninggal dunia dan puluhan orang lainnya baik mahasiswa dan masyarakat masuk rumah sakit karena terluka.
Sepanjang malam tanggal 12 Mei 1998 hingga pagi hari, masyarakat mengamuk dan melakukan perusakan di daerah Grogol dan terus menyebar hingga ke seluruh kota Jakarta. Mereka kecewa dengan tindakan aparat yang menembak mati mahasiswa. Jakarta geger dan mencekam.

kerusuhan mei 1998 trisakti

Kerusuhan Mei 1998

Kemarahan masyarakat terhadap kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti dialihkan kepada orang Indonesia sendiri yang keturunan, terutama keturunan Cina. Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam hari mulai pada malam hari tanggal 12 Mei dan semakin parah pada tanggal 13 Mei siang hari setelah disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa tertembak aparat.
Sampai tanggal 15 Mei 1998 di Jakarta dan banyak kota besar lainnya di Indonesia terjadi kerusuhan besar tak terkendali mengakibatkan ribuan gedung, toko maupun rumah di kota-kota Indonesia hancur lebur dirusak dan dibakar massa. Sebagian mahasiswa mencoba menenangkan masyarakat namun tidak dapat mengendalikan banyaknya massa yang marah.
Setelah kerusuhan, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke 20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa di mana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa. Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini.
Akhirnya dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini karena saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti peristiwa gugurnya Pahlawan Reformasi. Demonstrasi terjadi di kota-kota besar dunia mengecam kebrutalan para perusuh. Akhirnya untuk meredam kemarahan dunia luar negri TGPF mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa adalah benar terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita etnis minoritas yang mencapai hampir seratus orang dan juga penganiayaan maupun pembunuhan oleh sekelompok orang yang diduga telah dilatih dan digerakkan secara serentak oleh suatu kelompok terselubung. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut untuk membuktikan kelompok mana yang menggerakkan kerusuhan itu walau diindikasikan keterlibatan personel dengan postur mirip militer dalam peristiwa itu.

Minggu, 20 November 2011

fairish

Lagi-Lagi dipinjemin Novel... Cekidot novel yang baru sudah dipinjamkan lebih dari 1 bulan baru baca lagi & post ini juga udah mandek di draft sebulanan ini mending masih ada beberapa post lagi yang mandek di draft lebih lama dari ini :0

Judul : Fairis
Penulis : Esti Kinasi
Penerbit : PT GRAMEDIA PUSTAKA UMUM
Tahun Terbit : 2004ISBN : 979-22-0940-9

"lo pura-pura jadi pacar gue ya, Rish? Biar gue nggak dikerubutin cewek-cewek centil itu." pinta Davi."Tapi... konsekuensinya, Dav" ujar Irish pelan."Elo punya cowok?" Kali ini ganti Davi yang tersentak kaget. "Atau... Lagi ada yang elo suka?"Iris buru-buru geleng kepala. "Bukan gitu. Kalo mereka nyangka kita beneran...""Biarin aja. Bagus malah!" Davi mengenggam kedua tangan Irish.Akhirnya Irish menerima permintaan Davi meskipun dengan setengah hati. Tapi setelah dijalani, Irish senang kok menjadi satu-satunya cewek yang paling dekat dengan Davi, walaupun cuma untuk sementara dan tanpa ada ikatan apa-apa.Iris emang nggak secantik Penelope Cruz. Dia cuma cewek biasa, yang di sekolah pun sama sekali ngak ngetop. Karena itu Davi merasa aman, soalnya dia merasa nggak bakalan naksir Irish. Tapi saat muncul cowok lain yang bikin Irish terpikat, kok Davi jadi nggak rela kehilangan Irish, ya ?

Cerita Singkat

SMA Palagan, ada seorang murid baru bernama Davidio Daniel Dharmawan yang dipanggil Davi. Awal kemunculannya membuat cewe cewe diSMA Palagan terpesona, ia memilih duduk disebelah Fairish (dipanggil Irish) yang kecil, lucu. Cewek cewek yang mencoba menarik perhatian Davi selalu nongkrongin tempat duduk Irish yang membuat pemilik tempat duduk harus mengungsi tiap sebelum mulai pelajaran. Davi tipe pria yang jarang bicara, dingin pada wanita bahkan Wulan pernah menjadi korban amarahnya karna lelah digangu. Tapi Irish juga heran karna Davi berbeda jika didepan Udin dkk (cowok2). Hingga Irish yang sempat takut dgn halus mengusir Davi sebagai alasanya pemilik tempat duduknya ada sedang sakit & diRawat Di RS. Irish merupakan satu satunya cewek yang cuek pada Davi. Davi yang tiba2 datang kerumah irirsh mengajak irish pergi dengan alasan menjenguk orang yang memiliki bangkunya. Tapi ditengah jalan Davi mengakui telah menjenguknya & malah bercerita mengenai kekasihnya yang terdahulu meninggal saat Davi yang suka ngebut membawanya kekebun teh tempat favorit pacarnya. Setelah bercerita Davi menuangkan emosinya dengan memarahi Irish yang sedang menenangkannya. Irish yang kesalpun marah pada Davi, yang membuat Davi tertawa dan kembali ke tujuan utamanya mengajak irish keluar yaitu ingin Fairish berpura-pura jadi pacarnya dimulai saat pesta ultah teman sekelasnya yang kaya buangettttt (Metha). Tapi jika Fairish punya Cowo yang ditaksir mereka akan selesai (pura-pura pacarannya).

EsoknyaDisekolah Davi tetap cuek pada Irish namun pulangnya ia baru mendesak Irish. Tiba saat yang ditunggu Davi & Fairish datang kepesta ulang tahun Metha. Dipesta ulang tahun itu tatapan para cewe memandang Irish dengan sinis,yang membuat mereka segera pulang. Disekolah berita jadiannya Irish & Davi langsung merebak, dan membuat Davi jadi Protektif terhadap Irish. Davi dan irish kemana mana selalu berdua, Hingga mendadakhari dan waktu Ekskul mereka bersama, Irish yang habis Rapat langsung diculik Metha,Wulan dkk kerumah Daniar yang dekat sekolah. Tepat saat mereka memaksa Irish cerita tentang 'mengapa mereka bisa Jadian ?' Davi datang menolong. Kejadian tsb membuat Davi lebih protek pada Irish. Wulan dkk membuat pansus untuk membuat Irish Cerita tapi usaha mereka sia sia. Hingga saat tanding basket pansus tsb memboykot seluruh siswa agar tak datang bahkan cherrs pun diBoykot. Hingga Udin dkk membantu, yaitu dengan menjadi Cherrs laki-laki dadakan yang membuat pertandingan Ramai & Meruntuhkan rencana Pansus.Hingga pansus mengalihkan Rencana dengan mencekal Vaya, sahabat Iris untuk berjualan Kripiknya diKoperasi. Awalnya Davi cuek tapi setelah tau teman irish jadi tersangkut akhirnya ia mengproklamirkan bahwa ialah yang menyukai Irish karna Irish Cuek padanya, pernyataan itu membuat angota pansus kecewa & patah hati. Kedekatan Irish dengan Davi membuat Fairish menyukai Davi, tapi sayang Davi hanya sweat saat didepan banyak orang & dingin saat mereka berdua. Hingga Irish memantapkan hatinya untuk menghalangi rasa itu tumbuh tapi harus MATI !! Hingga Irish tak lagi memiliki perasaan untuk Davi. Padahal dilain hati Davi juga mulai menyukai Irish namun ia kurang yakin terhadap perasaan Irish padanya sehingga Davi menutupi perasaannya.

Di SMA PALAGAN lagi lagi ada seorang murid baru, Alfa yang memiliki sifat Riang. Pertama bertemu Irish, Alfa langsung menyukainya dan mengejar Irish walau tau Irish sudah berpacaran dengan Davi. Hingga aksi nekadnya merebut hati Fairish membuat murid murid SMA PALAGAN geleng geleng kepala. hingga ia menemukan celah yaitu ketika tanpa sengaja melihat Fairish yang sedang seorang diri melihat lihat Lukisan. Alfa langsung menyapa Fairish yang dijawab Fairish dengan baik padahal biasanya Jutek, Hingga Alfa memperlihatkan pengetahuannya dalam Lukisan, hal ini lah yang membuat Alfa dapat mendekatkan dengan nya dengan Irish. Hingga gosip Di Sma Palagan pun beredar saat mereka melihat lukisan "Nyaris" (read hampir bugil) dari Metha. Davi yang meminta penjelasanpun terbakar api cemburu, Hingga Irish minta pertanggung jawaban Alfa. Tapi Alfa malah ngasih saran P.U.T.U.S yang membuat Irish ingat jadiannya dengan Davi hanya Tameng untuk Davi. tapi sat ia sedang ngedumel Davi datang dan minta maaf, Esoknya Irish pun menjelaskan tiap jadwalnya pergi kepameran dengan Alfa pokoknya hari Irish selalu dengan Alfa, Diam diam sebenarnya Davi menahan RASA CEMBURUNYA. Hingga saat Alfa akan membonceng Irish, Emosi yang dipendan Davi pun Tersulut. Davi lalu membawapaksa Irish kemobilnya yang membuat Alfa marah dan mengejar Mobil DAVI. Alfa pun mengancam jika Irish kenapa napa irish akan jadi miliknya bahkan Alfa menyiratkan bahwa hubungan Irish dengan Davi hanya pura pura. Irish Pun benar-bener marah saat Davi memarahinya karna ia mengatakan hubungannya yang sebenarnya pada Alfa. Esoknya dengan Usaha yang keras Davi dimaafkan, dan karna bertenkar sebelum berangkat mereka jadinya bolos ke tempat galeri sepupuhnya Davi.

Esoknya Alfa sudah ada Dibangku Davi dan mengancam Akan datang saat jm pulang sekolah untuk nonjok Davi. pulang sekolahpun tiba dan benar saja aLFA DATANG DAN MENUTUP PINTU KElas. awalnya Irish takut dan memeluk Davi tapi ia disuruh duduk jauh dari mereka. benar saja Alfa langsung memukul Davi, saat hampir baku hantam Alfa membisikan bahwa ia adalah Sepupuh dari mantan pacar Davi yang meninggal. Davi mengantar Irish pulang,Irish yang curiga ada sesuatu dibalik ini selain dirinya bertanya tapi davi malah menyuruhnya masuk. Davi langsung pergi ditempat yang dijanjijkannya dengan Alfa disana baku hantam benar benar dahsyat dan Alfa mengungkapkan kekecewaannya pada Davi yang PLAYBOY malah sedang asyik pacaran dijakarta dengan Irish. Davi pun jadi teringat bagaimana usahnya bunuh diri hingga ibunya menanggis dihadapannya yang membuat Davi ingin Berubah. Davi hanya pasrah pada Alfa karna memang ia pernah memasrahkan dirinya untuk dibunuh keluarga almarhum pacarnya tsb. Diakhir perpisahaannyadengan Alfa, Davi memberitahu hubungannya Dengan irish hanya SANDIWARA. Davi jadi ngedown tapi ia ingat kenangannya denga Iris dan Doa yang Iris beri padanya membuat Davi Kuat.


Esoknya ALfa Lebam lebam dan memberitahu Irish bahwa ia sudah tau hubungannya dengan davi hanya pura puar sedangkan Davi 2 hari tidak masuk. saat masuk ia malah cuek pada Irish dan membiarkan Alfa mendekati Irish walau didepan davi hal ini membuat Irish sakit Hati karna pengorbanananya SIA SIA. dan Irish berusaha tidak peduli pada Davi & Alfa. hingga saat Davi tidak masuk 3 hari Irish jadi khawatir apalagi ia tau Davi keTemanggu tempat mantan pacar davi meninggal. Irish yang sudah tau siapa Alfa bertanya pada Alfa sedanga APA DAVI malah dijawa mencari Angin. Disaat Davi tak ada Irish menyadari bahwa perasaanya pada Davi belum Hilang.


hingga Saat Davi masuk ia berterimakasih karna Irish peduli. Suatu malam Alfa dengan tampilan rapi datang kerumah Irish dan menembah Irish dengan serius. Dari Jauh Davi melihat dan membaca situasi yang terjadi, Hingga Alfa pulang, Irish merenung sampai Masuk Davi hanya melihat dari jauh. Sampai Davi memutuskan sesuatu.

Esoknya Davi membawa Irish dengan motoe untuk melawan phobianya dengan motor ia mebonceng Irish dengan ngebut kekebun teh Tiba dikebun Teh Davi menyatakan isi hatinya yang disambut oleh Irish. Dan davi memberi secari kertas dengan tulisan.

Doa yang irish kasih buat Davi

Tuhanku....
Bicaralah padaku bial aku kesepian....
Bisikanlah dukungan-Mu bila aku dirundung kecemasan
Dengarkanlah Suaraku bila aku jatuh
Sudilah menjadi bagiku penghiburan dalam perjalanan
Tempat bernaung di waktu panas
Tempat berteduh Di kala Hujan
Tongkat Penuntun dalam kelelahaan
Dan penolong dalam Bahaya
Semoga Aku berhasil
Mencapai tujuanku
Sekarang, dan juga nanti
Pada akhir hidupku.


isi kertas yang diberi Davi pada Irish

Aku telah bernyayi untukmu
Tapi Kau tidak juga menari
Aku telah menangis didepanmu
Tapi kau tidak juga mengerti
Haruskah aku menangis sambil bernyanyi
(Lagu Gelombang by Kahlil Gibran




cerpen Lebaran Tanpa Ibu Yang Membayangi


M
ulanya aku merasa terpenjara. Ruang gerakku terbatasi. Tak bisa sembarang bermain ke mana kusuka.  Ke segala arah mata angin langkahku selalu kandas, terhalang  pagar - pagar yang tidak dapat kulewati. Berkutat di dalam lingkungan pondok tak enak, menjemukan. Aku muak tinggal di pondok pesantren dengan seabrek peraturan yang membuatku kehilangan kebebasan. Tidur dan terjaga harus sesuai jadwal. Teman-teman dari berbagai daerah tak ada yang dapat kuakrabi. Mereka sombong, pikirku. Aku merasa terasing.  Belajar pun tak nyaman. Ustadz dan ustadzahnya pun tak familiar. Belum lagi makannya yang tak begitu cocok dilidahku. Makan pun harus sesuai jadwal, harus antre kayak narapidana atau kayak orang miskin mengantre pembagian jatah sembako. Menyebalkan.Tiga bulan pertama aku merasa tersiksa.
Tak ada keluarga yang boleh datang menjenguk. Aku ingin pulang, pulang dan tak pernah kembali lagi. Aku ingin makan enak di rumah, nonton sinetron, jalan-jalan ke mal, makan bakso kondang kesukaanku, mendengarkan musik,  nonton konser , bahkan nonton sepak bola.   Aku  juga ingin selalu berkumpul dengan Siska, Vera, Qzing, dan Bzonk, teman-teman gank Mertrous waktu SMP. Kalau bukan karena ibu yang menangis-nangis dan ayah memaksa dari awal aku tak mau masuk pondok pesantren.
“Restu, ibu menginginkan agar kelak kamu menjadi muslimah yang baik, kaffah dalam menjalankan syariat Islam. Kamu satu-satunya harapan ibu. Terhadap kedua kakakmu ibu gagal mengarahkan ke jalur agama. Ibu tidak mau hal itu terulang kepadamu. Demi ibu yang melahirkanmu dengan cucuran darah,  ibu mohon kamu melanjutkan pendidikan ke pesantren saja. Ibu tahu yang terbaik buat kamu. Kamu akan menjadi lebih baik jika masuk pesantren.  Waktumu akan lebih  banyak digunakan untuk belajar. Ibu sangat mengerti karakter kamu. Keadaan lingkungan keluarga kita belum sanggup menjadikan kalian berakhlaqul karimah, belum sanggup membuat kamu rajin ibadah. Di sana ada ustadz Zulkifli dan ustadz Sandi kenalan ayahmu yang dapat kau mintai tolong bila perlu. Ibu akan sering-sering menjengukmu. Tak ada yang mesti dikhawatirkan. Kalau ada sedikit kesusahan, itu hal biasa dan pasti bisa diatasi. Ibu mohon kamu melanjutkan ke pesantren saja.” Mata ibu berkaca-kaca. Dalam dua malam terakhir kudapati ibu shalat dengan wirid dan doa berlama-lama. Kukira ibu ingin hajatnya terlabul.
Atas keinginan ibu aku tak bergeming. Malam kian jauh. Bulan tak muncul.  Ayah menutup percakapan malam itu dengan nada kesal. “Kalau kamu tidak mau melanjutkan ke pesantren, lebih baik tidak usah sekolah. Biar nanti hidupmu susah sekalian!” Aku tak berani menentang kekerasan watak ayah. Kalau ayah meluapkan amarahnya, tak segan aku ditamparnya. Ketika aku kedapatan pulang tengah malam sehabis nonton di bioskop bersama teman-teman kepergok ayah, ayah marah besar. Sampai dua hari kepalaku masih pening karena tamparan ayah. Aku tak mengira ayah bakal pulang ketika itu, karena sejak sore ayah berangkat kerja, mendapat giliran kerja malam.
Tak jemu-jemu ibu membujuk agar aku melanjutkan  studi ke pesantren. Aku pengang dan bosan mendengarnya. “Iya, iya. Aku mau masuk pesantren. Demi ibu!” balasku sembarang, sekadar memuaskan hati ibu dan agar ibu tidak bicara terus. Terpaksa kuturuti keinginan ibu walau hanya sebatas kata-kata.
Aneh, selanjutnya seperti tak ada kekuatanku untuk menolak ajakan ibu. Aku mengikuti saja ketika diajak mendaftar jadi santri baru di pondok pesantren dekat perbatasan kabupaten Serang. Seleksi calon santri kuikuti dengan sewajarnya. Hasilnya, aku lulus seleksi. Aku senang berarti aku mampu, meskipun masuk dalam kelompok reguler, yang berarti prestasiku biasa-biasa saja. Bagiku suatu hal yang menggembirakan karena aku bukan lulusan madrasah sedangkan soal yang diujikan sebagian besar mengenai agama.  Selanjutnya, jadilah aku santri sebuah pondok pesantren modern bervisi: Merawat Tradisi Merespon Modernisasi. Berarti aku masuk kelas empat, sama dengan kelas sepuluh di SMA. Mengetahui aku diterima di pesantren teman-teman mengirim pesan singkat bernada seloroh: semoga lekas insyaf; anda berada di jalan yang benar; selamat memasuki dunia lain; demi gank Metrous nanti kita ngumpul lagi; dan lain-lain. 
Demi memenuhi keinginan ibu kujalani tugas ini. Tugas untuk belajar di pesntren. Bekal makanan yang dibawakan ibu  cukup untuk dua minggu. Kekurangannya,  makan dan minum kuperoleh dari  dapur umum. Masa-masa awal menjadi tempaan yang benar-benar tak mengenakkan bagiku yang terbiasa hidup enak di keluarga. Biasa bebas, biasa dilayani, kini aku dituntut harus lebih bisa mengurus diri sendiri.  
Untuk kepentingan merayakan ulang tahun di rumah, dengan alasan orang tua sakit keras, aku diijinkan pulang. Kuminta ibu berbohong  kepada petugas bagian pengasuhan. Sungguh aku merasakaan kebahagiaan tersendiri berkumpul dengan rekan-rekan SMP termasuk gank-ku, Mertous. Sesuai janji dengan ibu, aku hanya dua hari di rumah, kemudian berangkat lagi. Ibu juga berjanji tak akan berbohong macam itu lagi. Cukup sekali. Untuk selanjutnya ibu tidak mau mengulanginya.
Itu sebabnya di tahun kedua aku tak berniat merayakan ulang tahun di rumah. Aku ingin ulang tahunku dirayakan di pondok saja, walaupun dengan cara yang sederhana. Meskipun begitu tentu saja kue ulang tahun dan makanan pendamping lainnya mesti ada. Aku tak mau dicibir teman-teman karena tak ada kue ulang tahunnya.  Aku rencanakan acara ulang tahunku akan dilaksanakan saat berbuka puasa, di kamar, dengan mengundang teman-teman putri sekelas.
“Pokoknya ibu harus bawa kue ulang tahun!” pintaku memaksa saat ibu menjenguk, “Jangan lupa juga kue-kue lainnya, buat teman-teman.”
“Ya ya, yang penting kamu sungguh-sungguh belajar. Insyaallah ibu bawakan.”
“Benar yah!” Aku senang ibu  menyanggupi permintaanku. Kupikir  aku tak perlu pulang dan tak perlu  repot-repot mengarang cerita fiktif agar diijinkan meninggalkan pondok.
Saat mendekati waktunya, aku mengirim pesan singkat melalui handphone orang tua temanku yang menjenguk agar ibu tidak lupa dengan janjinya, yakni membawakan kue ulang tahun dan makanan lainnya. Aku ingin  janji ibu tak meleset. Aku ingin ulang tahun kali ini menjadi ulang tahun terindah, yakni ulang tahun yang dihadiri oleh seluruh teman putri dan dilaksanakan saat berbuka puasa. Dengan  begitu aku berharap mendapat berkah berlimpah. Teman-teman sudah kuberitahu. Mereka merespon dengan baik dan menyatakan insyaallah akan hadir.
Hari kesebelas puasa, tepat hari ulang tahunku, kunanti kedatangan ibu sejak pagi kalau-kalau ibu tiba. Hingga matahari tergelincir ibu tak datang juga. Aku gelisah.  Namun tentu masih ada harapan setengah hari. Barangkali beberapa saat lagi. “Ibu di manakah kau, aku sangat mengharapkanmu. Tolong ibu, jangan permalukan aku, anakmu yang malang ini,” harapku dalam hati. Kukira mungkin saja ibu tiba menjelang buka puasa. Ternyata hingga adzan magrib mengumandang ibu tak juga muncul, sedangkan teman-teman sudah berkumpul di kamarku. Satu persatu mereka bubar. Aku tertunduk malu. Pupuslah harapanku. “Ya Tuhan. Mesti ditaruh dimana mukaku,” keluhku dalam hati. Aku menangis, tak dapat menahan malu dan sedih. Namun beruntung beberapa teman memaklumi keadaanku dan kemudian berusaha memberi pengertian terhadap teman-teman lainnya. 
Langit tanpa bulan malam itu cerah, tak ada tanda-tanda bakal hujan. Angin semilir. Lampu-lampu telah dinyalakan. Suara-suara santri sedikit riuh. Sebagian besar santri telah berkumpul di musholah Ar-Rahmah. Aku baru saja keluar dari  kamarku di Masyitoh dua.   Sebeum adzan isya mengumandang kudengar jelas panggilan dari pengeras suara: “ Panggilan: kepada Restu Hawa kelas lima ditunggu di majelis pengasuhan putri sekarang juga.”   Bergegas kupenuhi panggilan itu.  Di sana ada paman Fahmi. Tak biasa dia bersedia menjemputku. Dalam hati aku bertanya-tanya. Jangan-jangan ada yang tak beres. “Ada apa paman?” tanyaku curiga.
“Restu, kamu pulang sekarang yah, penting!”
Ustadzah Riani yang kukira telah mendapat penjelasan dari paman Fahmi  berusaha menenangkanku.  Dia membimbingku agar menuruti ajakan paman Fahmi. Meskipun  tidak mengerti maksudnya aku manut saja sebagai sikap hormatku kepadanya. Tanpa banyak bicara kuturuti ajakan paman Fahmi walau dalam hati aku bertanya-tanya. Aku  tak berani membayangkan hal yang tidak-tidak tentang ibu. Sepanjang perjalanan aku berdoa semoga ibu baik-baik saja.   
Persis ketika mobil yang kutumpangi tiba di depan rumah, sebuah ambulan keluar  gang meninggalkan rumahku. Jantungku berdetak-detak, terasa aliran darahku tersedak-sedak. Orang-orang berkurumun di depan dan di dalam rumah. Berpasang mata menatap ke arahku. Aku  terheran-heran. Tak ada yang mau mengatakan siapakah gerangan yang terkena musibah. Kulihat ayah segar bugar meski dengan wajah pucat. Kakak dan kedua adikku menangis sesenggukan. Di ruang tengah ada yang terbujur, terbungkus kain putih. Kusingkap kain yang menutupi wajahnya untuk memastikan. Masyaallah, ibu! Innalillahi wa innailaihi rojiun. Spontan tangisku meledak. Aku nyaris tak sadarkan diri. Sesak dadaku.
Ini salahku. Kusesali diriku. Karena akulah ibu jadi korban. Tanpa kuminta bibi yang berada di sampingku mengatakan bahwa ibu mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju pondok sekitar bakda dzuhur. Sungguh,ini salahku. Meski tanpa kata-kata, dari tatapannya aku merasa ayah dan kakak menyalahkanku. Mereka tampak sinis. Aku makin tersudut. Ingin mati saja rasanya, mati bersama ibu. “Ibu. Aku ikut ibu,” bicaraku dalamtangis.  Beruntung masih ada bibiku yang mau mamahami keadaanku. Dia tak henti-henti menenangkan dan menasihati agar aku bersabar dan tawakal. Penguburan dilakukan malam itu juga, usai shalat tarawih.  Bibiku itu pula yang selalu dekat denganku hingga menemaniku mengantar jenazah di tempat pemakaman umum.
Lebaranku kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Amat terasa, tanpa kehadiran ibu. Terasa ada yang hilang. Hambar. Tak ada hidangan yang nikmat untuk disantap. Tak ada suka cita di malam takbir. Tak ada shalat ied bersama. Tak ada pula pakaian baru. Ayah, kakak dan kedua adikku masih merasa terpukul. Mereka masih membenciku. Mereka masih berat menerima permintaan maafku. Aku maklumi hal itu. Aku terima kekecewaan mereka terhadapku. Aku sadari itu karena salahku. Aku menyesal. Namun dengan begitu  derita batinku berangsur   meringan. Kukira aku sedang menerima ganjaran atas kesalahanku. Pada hari kedua, barulah ayah dapat memaafkan aku. “Maafkan ayah, Restu. Ayah keliru. Berhari-hari ayah membencimu. Ayah salah, Nak. Seharusnya ayah menerima ini sebagai musibah keluarga, musibah kita bersama. Maafkan ayah, Nak.” Ayah tak dapat menahan tangisnya. Air mataku pun tumpah. Kakak dan kedua adikku pun bertangisan. Sesaat di rumah kami berlangsung paduan suara bernada sedih campur haru.**